Gus Dur meninggal dunia. Kabar yang sangat mengejutkan bagi saya ini baru saya dengar pukul 09.45, sepulang saya dan beberapa teman pulang dari Gedung Bank Indonesia, melihat Bienalle Jogja X. Kaget, bingung, sedih, tidak percaya. Beberapa perasaan ini bercampur. Saya mendekat ke layar televisi untuk memastikan bahwa pendengaran dan pandangan saya tidak salah. Dan ternyata benar, Gus Dur benar-benar wafat, ia menghembuskan nafas terakhirnya di RSCM pukul 18.45 WIB.
Memori di kepala saya tiba-tiba seolah berputar, berbalik. Ingatan-ingatan saya mengenai Gus Dur seperti berlomba, berjejal untuk dimunculkan kembali. Saya bukan penggemar Gus Dur, bukan pengikut pemikiran-pemikirannya, bukan pula seorang santrinya, tetapi sosok Gus Dur banyak menyita slot memori di otak saya. Sebenarnya, sebagaimana muslim”konvensional” yang lain, saya cenderung tidak suka dengan Gus Dur. Dengan pemikirannya, juga dengan banyak tindakannya. Namun, entah mengapa, justru ketidaksukaan itu yang membuat atensi saya kepada Gus Dur sangat besar.
Saya selalu menanti statement-statement yang Gus Dur keluarkan. Saya banyak mengumpulkan jokes-jokes orisinil dari gus dur, saya menantikan kemunculannya di televisi. Saya membaca tulisan-tulisan orang mengenai dirinya. Walaupun bukan dengan semangat pengikut, bukan juga dengan semangat penggemar.
Mungkin karena itu semua , sosok Gus dur seakan menjadi akrab dengan ingatan saya, walaupun tidak dengan evaluasi positif. Dan mungkin karena itulah, mendengar berita tadi, saya merasa kaget dan merasa sangat kehilangan. Seolah saya kehilangan seorang pahlawan atau seorang tokoh panutan. Padahal, sama sekali tidak, saya tidak pernah menganggapnya demikian. Hanya saja, entah mengapa, rasa kehilangan saat saya mendengar kabar tadi hampir sama seperti saat saya mendengar berita kematian WS. Rendra , Pak Sugiyanto, atau Pak Mustaghfirin dosen saya.
Satu hal yang banyak mengisi ingatan saya tentang Gus Dur adalah humor-humornya. Saya menyukai selera humornya. Gus Dur memang dikenal sebagai sosok yang hobi bercanda, ia gemar lelucon. Menciptakan lelucon maupun menikmatinya. Buku “Mati Ketawa Ala Gus Dur” bisa jadi bukti otentik. Kumpulan lelucon Gus Dur dikumpulkan dan dapat disusun menjadi sebuah buku. Harus diakui, saya mengagumi humor-humornya, humor-humor cerdas.
Humor bagi Gus Dur, seperti sebuah kopiah bagi seorang kiai. Humor tidak bisa dipisahkan dari pribadinya. Humor adalah dirinya, tak peduli status apa yang sedang ia sandang.
Gus Dur memandang humor bukan hanya sebagai sarana pemecah kebekuan, humor baginya adalah sarana penyampai pesan. Pesan penting sekalipun. Ia mampu menjadikan humor sebagai media kritik yang tidak memerahkan telinga, cukup menimbulkan senyum kecut atau miris. Bagi siapa saja, termasuk bagi dirinya sendiri.
Humornya, tak terbatas ruang, tak terbatas waktu. Ia bisa melucu dimana saja, dalam kesempatan apa saja. Gus Dur bisa jenaka dengan bahan apa saja, bahkan dengan kekurangan dirinya.
Dalam sebuah konfrensi internasional di Bali, bersama wakilnya, Megawati, Gus Dur memberikan pidato sambutan sebagai kepala negara. Di hadapan para hadirin Gus Dur berbicara dengan bahasa Inggris yang santai, mengalir, dan tanpa teks, “ Kami (Gus Dur dan Mega- pen) akan menjadi tim yang hebat..” Saya tidak bisa melihat, dan dia tidak bisa bicara..”
Gus Dur dan humor-humor cerdasnya. Satu rangkaian yang pasti akan sangat saya rindukan. Selamat jalan Gus Dur….
30 desember, penghujung 2009














