Oleh: luqmantifaperwira | Maret 26, 2011

Menikmati Kemudahan Belajar di Luar Negeri

Pada awalnya memang, begitu tahu saya lolos mendapatkan beasiswa ini, saya sadar kalo ini konsekuensinya berarti saya harus menunda skripsi saya. Selama dua bulan disana pasti saya akan sibuk dg agenda kuliah dan program sehingga mana mungkin dapat mencicil penelitian akhir saya ini. Karena itulah saya sempat berniat untuk tidak memikirkan skripsi sama sekali disana,fokus kepada program. Tetapi untunglah saya berubah pikiran, saya bawa bebrapa buku referensi saya dan sebuah poposal skripsi yang saya buat dg mati2an. Walopun tidak tahu apakah akan berguna atau tidak disana kelak.

Sesampainya di Amerika, alhamdulillah, ternyata saya memiliki cukup banyak waktu untuk membagi hati dan pikiran kepada penelitian saya. Saya sampatkan untuk mencicil berkonsultasi dan mencari referensi, dan terkejutlah saya, akan berbagai hal yang saya jumpai disini.

Saya iseng mengemail beberapa profesor yang ekspert di bidang yang ingin saya teliti. Dan responnya sungguh diluar dugaan, beberapa jam kemudian berbalas dan siang harinya kami ketemuan. Beliau senior, dan P.Hd, tapi cara beliau menyikapi saya, orang asing yang kurang belajar dan kurang ilmu ini luar biasa menghargai. Beliau dengan sabar mendengarkan unek-unek saya mengenai rancangan eksperimen yang saya buat. Dengan segala keterbatasan bahasa yang saya miliki, beliau berusaha dengan sungguh-sungguh memahami. Beliu memberi beberapa masukan, menawarkan untuk bertemu lagi dan diluar dugaan profesor itu memberikan saya beberapa referensi buku yang penting untuk saya baca.

Berikutnya adalah perpustakaan, ini adalah surga dunia nya para skripsiwan skripsiwati, dan para peneliti atau sekedar pencarai referensi. Susah saya menggambarkan seberapa besarnya perpustakaan dikampus ini. Saya menemukan judul – judul yang selama ini saya cari, referensi-refrensi yang selama ini hanya saya dapatkan di kutipan dari kutipan yang dikutip dari tulisan aslinya. Dan yang lebih asyik lagi, di E-library, kita bisa menemukan ribuan jurnal, yang bisa dengan mudahnya langsung kita download atau kalau mau bahkan diprint langsung.  Oh ya, dan disini asalkan sudah teregister sebagai mahasiswa, ngeprint dimana-mana gratis. Susah menghilangkan rasa bersalah saya untuk mengeprint beberapa judul jurnal tanpa membayar, mengingat biasanya di perpus kampus kami membayar 800 rupiah per lembar. Perpus disini buka setiap hari sampai malam. Bisa lupa waktu kita disini. Terbuai dengan puluhan judul buku yang selama ini kita idam idamkan.

Dua hal ini, kemudahan dosen untuk di akses, dan ketersediaan referensi yang lebih dari memadai, sungguh sangat mendukung proses belajar ataupun penelitian yang sedang kita jalani. Ini baru dua poin utama, masih banyak hal-hal pendukung lain yang membuat proses belajar menjadi sangat nikmat. Transportasi umum yang sangat bisa diandalkan, kenyamanan dan kebersihan lingkungan kampus, sarana rekreasi mahasiswa saat kita mulai jenuh atau sekedar ingin menjaga kebugaran tubuh, dan masih banyak lagi lainnya. Semoga ini bisa memotivasi saya untuk bisa melanjutkan studi di luar negeri, dan tentu saja untuk nantinya turut membangun iklim belajar yang kondusif di kampus di negeri kita sendiri.

Oleh: luqmantifaperwira | September 24, 2010

Pak Warto, Guru Istimewa Kami

Jika kita mau menghitung, jumlah guru yang pernah mengajar kita semenjak TK hingga SMA bisa mencapai angka puluhan. Setidaknya ada tiga guru TK, 7 guru SD, 10 guru SMP, 15 guru SMA, yang pernah berinteraksi belajar mengajar dengan kita. Belum lagi ditambah dengan guru-guru ekstra maupun intrakulikuler lain. Namun, diantara sekian banyak guru tersebut pasti terdapat nama seorang guru yang paling membekas dalam ingatan kita.

Bagi saya, nama tersebut adalah Suwarto, S.Pd., Pak Warto, guru kelas lima dan kelas enam  saya di sekolah dasar. Sampai saat ini, nama itu masih menempati urutan pertama guru yang paling berpengaruh yang pernah saya temui.

Beliau adalah guru yang sangat menyenangkan bagi siswa-siswanya, guru yang tidak pernah marah, dan guru yang dalam pandangan kami pada waktu itu, mau melakukan apa saja untuk membuat anak didiknya bersemangat untuk belajar.

Saat memasuki kelas lima dan mengenal beliau, sekolah berubah menjadi sebuah aktivitas yang ditunggu-tunggu. Bagaimana tidak, setiap masuk kelas kami selalu disambut dengan jabat tangan yang hangat dan senyum lucu yang menentramkan. Ekspresi wajah dan tubuh beliau seakan berkata: “Selamat datang, Ayo, mau berpetualang kemana kita hari ini?” Bersama beliau, pelajaran-pelajaran kelas lima yang di level SD merupakan pelajaran paling berat, tidak terasa menjadi beban. Pelajaran matematika, yang selama ini jadi hambatan saya, entah bagaimana, menjadi terasa mudah.

Yang menjadi favorit saya adalah ketika beliau mengajar pelajaran IPS, pada materi sejarah. Pak Warto, menjelma menjadi seorang pendongeng hebat, wajah beliau yang memang lucu, ditambah pembawaan beliau yang sangat ekspresif membuat kami terhanyut dalam kisah-kisah sejarah itu. Belakangan kami mengetahui bahwa ternyata beliau memiliki pengalaman sebagai dalang wayang kulit, tak mengherankan, materi-materi sejarah dari zaman kerajaan sampai zaman perang kemerdekaan disampaikan dengan sangat menariknya. Begitu pula pada pelajaran yang lain, IPA misalnya. Kami tidak hanya diberikan materi semata yang ada di dalam buku, tetapi kami benar-benar diajak untuk mengamati sekeliling lingkungan kami.

Saya punya pengalaman khusus yang sangat membekas. Pada pelajaran mengenai batuan, kami diminta untuk mencari batu disekitar lingkungan untuk kemudian dibawa kesekolah untuk diidentifikasi bersama. Dengan mantap saya membawa sebongkah batu yang saya yakini merupakan batu apung, karena saya temukan batu itu terhanyut saat halaman rumah saya digenang air hujan. Setalah diteliti bersama di depan kelas, dengan menahan geli, Pak Warto menyampaikan bahwa itu bukanlah batu apung, melainkan sebongkah kayu yang hangus terbakar. Serentak seluruh kelas tertawa, menertawakan saya. Saya semestinya malu ditertawakan seperi itu, dan saya memang agak malu karena tadinya sangat mantap saya yakin itu adalah batu apung, tetapi dengan cara yang ajaib Pak Warto membawakan suasana kelas menjadi lucu dan menyelamatkan saya dari rasa malu yang amat sangat. Dan saya pun justru bisa ikut tertawa lepas. Momen ini tidak akan pernah saya lupakan sepanjang waktu.

Kami juga sangat terkesan dengan kesabaran beliau dalam membimbing murid-muridnya. Diantara keduapuluh anak, terdapat dua anak yang kami tidak memahami sebabnya, tidak pernah mau mengeluarkan kata-kata. Dua kawan kami yang sangat pendiam,sangat-sangat pendiam ini, dalam satu hari mungkin hanya mengeluarkan satu atau dua kata saja. Kami, teman-temannya, kadang jengkel, tidak sabar melihatnya terus menerus diam, bahkan saat ditanya oleh Guru. Namun,tidak untuk Pak Warto. Dengan kedua anak ini juga, Pak Warto tidak pernah marah.

Rasa sayang kami, keduapuluh murid ini, kepada  Beliau semakin hari semakin bertambah. Sampai pada hari Ulang tahunnya, kami menyusun sebuah rencana “jahat”. Hari itu kami sepakat berubah menjadi anak-anak bandel, tidak mendengarkan, malas, dan ramai di kelas. Pokoknya apapun untuk membuat beliau marah, sebuah ekspresi yang selama ini belum pernah kami lihat dari Beliau. Misi berhasil walau dengan susah payah, dan hari itu ditutup dengan kue tart dan kado istimewa dari kami. Dan pak warto pun menagis terharu.

Dari luar, orang menilai kesuksesan guru, khususnya guru kelas enam SD, adalah dari  seberapa tinggi capaian nilai akhir anak didiknya, atau berapa banyak murid yang mampu melanjutkan sekolahnya di SMP favorit, SMP negeri. Bagi kami, tanpa melihat hal ini pun, Pak Warto adalah guru yang sangat sukses. Beliau berhasil membangun cara pandang kami yang baru tentang apa itu belajar. Belajar,bagi kami saat itu,adalah aktivitas yang sangat menyenangkan.

Kerja keras, dedikasi, dan totalitas Beliau dalam mengajar membuahkan hasil. Dari 20 siswa-siswinya, hanya 4 orang yang nilainya tidak mencukupi untuk masuk SMP negeri, bahkan 6 anak berhasil masuk SMP favorit di kota kami. Pencapaian ini adalah prestasi yang luar biasa, khususnya bagi Pak warto, karena ini merupakan pertama kalinya pak warto “memegang” kelas 6, setelah sekian lama beliau mengajar kelas 5.

Rasa kagum dan bangga yang saya kepada Beliau rasakan bertambah, saat suatu ketika, setelah beberapa tahun lulus dari SD, saya bertemu dengan kedua kawan yang  dulu sangat hemat kata. Saya sangat kaget, mereka telah berubah jauh, seorang kawan saya, yang dulu ditanya guru saja tidak mau bicara, menyapa saya dengan tersenyum, dengan sangat akrab. Lebih mengejutkan lagi, saya mendengar dari teman-teman, si super pendiam yang lain, kini jadi bintang idola di sekolahnya.

Saya meyakini,perubahan pada kawan-kawan saya ini  juga merupakan salah satu bentuk kesuksesan dari Pak Warto. Keberhasilan membuat perubahan positif pada anak anak didiknya. Sebagaimana perubahan yang juga saya alami, buah dari kesabaran, dedikasi, dan rasa sayang Pak Warto kepada kami, murid-muridnya.

Oleh: luqmantifaperwira | Maret 15, 2010

DEMO SBY JANGAN DEMO OBAMA

Waktu saya menulis ini, sepekan lagi Obama datang. Obama, presiden negara paling berkuasa di dunia itu mau datang ke Indonesia, negara tidak begitu  berkuasa di dunia.  Sebulan sebelum hari H kedatangannya, warga Indonesia telah merespon dengan sikap yang bermacam-macam, seperti biasa, khas di negara yang super duper majemuk ini. Beberapa kelompok masyarakat telah menggalang kekuatan, menyatukan sikap, menolak dengan keras kedatangan nya.

Misal, ulama di Jawa Barat dan di Jawa Timur. Lebih dari seribu ulama sepakat, kompak, untuk menolak kedatangan Obama. Hizbut Tahrir Indonesia, jauh jauh hari sudah menyebarkan opini penolakan. Begitu Juga dengan FPI, dan banyak ormas lainnya.

Ormas ormas Islam berdiri di garda terdepan penolakan. Wajar, mengingat betapa kerasnya permusuhan Amerika terhadap Islam di berbagai belahan bumi.  Penolakan itu adalah sebuah reaksi dari apa yang telah dilakukan Amerika kepada ummat Islam. Mau tidak mau kini harus diakui  Amerika  menjadi Identik sebagai musuh Islam.

Demo penolakan digelar dimana mana. Mereka yang menolak beralasan bahwa Amreika merupakan negara dzolim, negara penjajah, negara biadab, dan berstandar ganda. Menyambut kedatangan pemimpin negara yang semacam ini sama saja  kita memuliakan negara dzolim, penjahat, dan seakan mendukung perbuatanya.  Tidak layak kita menyambut dan memuliakan pemimpin negara yang selalu memusuhi mendozlimi orang muslim, begitu yang menjadi alasan penolakan.

Mereka yang lain lagi  menolak dengan anggapan bahwa menyambut kedatangan mereka sama dengan membantu mereka, dan mereka adalah jelas-jelas negara yang memerangi Islam. Perbuatan ini hampir sama saja dengan menolong musuh islam yang sedang memerangi  Islam, perbuatan ini terlarang, sangat terlarang.

Karena itu beberapa kalangan menolak dengan keras kedatangan Obama  karena menganggap menyambut atau menerima kedatangannya sama dengan pro dan medukung kedzaliman yang dilakukan Amerika. Menerima kedatangannya sama dengan membantu musuh yang memerangi Islam.

Namun tidak semua sependapat dengan hal ini.

Saya sangat setuju bahwa perbuatan menolong orang yang memusuhi Islam itu terlarang, saya sepakat, itu sangat terlarang. Bahkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab perbuatan tersebut digolongkan kedalam 10 Pembatal Syahadatain.

Saya sangat yakin mengenai hal itu, dan tentu saja ulama ulama bersepakat mengenai hal ini,  namun disini yang menjadi problem adalah, di kalangan pemuka Islam masih banyak yang berbeda pendapat, apakah kasus menerima kedatangan Presiden Amerika ini dapat digolongkan sebagai perbuatan menolong orang yang memusuhi Islam atau tidak.

Nek saya yakin, perbuatan menolong orang yang memusuhi Islam itu tidak boleh. Wis mantep, dan jelas dalilnya.  Masalahnya apakah Amerikanya Obama ini tergolong memusuhi islam atau enggak disitu yang debatable. Nek saya cenderung setuju, Amerika  itu negara yang memerangi Islam! Mantep!

Bacalah berita-berita dari media Islam. Kedzoliman mereka tidak berhenti. Malah semakin parah. Guantanamo? Masih bukak tuh… walo kata Obama udah ditutup. Afghan di hajar habis habisan, Irak bom boman tiap hari. Belum lagi dukungan Amrik kepada adik kandungnya Israel dalam mempreteli Palestina. Empat belas negara Islam sudah mereka obrak abrik. Belum lagi yang mereka obrak abrik dengan sembunyi-sembunyi lewat mafia mafia akademisinya, lewat stasiun televisinya,  atau lewat  cendekiawan muslim gadungan pabrikan amerika, yang mengacaukan tatanan sosial dan agama.

Yakin saya mangkel berat sama Amerika. Mestinya negara kita yang mayoritas muslim itu bisa tegas. Tidak pro sama Amerika. Tidak mendukung kapitalisme. Tapi sayangnya…kita tidak hidup di negara yang Islam sepenuhnya, syariat Islam belum bisa ditegakkan setegak tegakknya…hal yang sudah jelas diatur hukum nya saja sering tidak bisa terlaksana di negeri ini, terlebih lagi pada hal yang masih diperdebatkan seperti ini. Susah membuat pemuka negara kita menolak kehadiran Obama dengan alasan ini. Apalagi OBAMA gitu lho..presiden Amerika, negara  yang Presiden kita “tercinta”  bahkan menganggap sanalah negara keduanya…

Jadi menurut saya realistis aja yuk.. Biarkanlah Obama datang kemari. Anggap saja dia sedang menengok kampung dan SD nya dulu, nostalgia. Biarkanlah, tak usah di demo. Toh, bagaimanapun juga ia akan tetap datang, susah membuatnya tak datang cuma karena Demo. Kalo karena bom mungkin masi bisa, kayak MU. tapi sayang keburu pada tertangkap.

Nah yang perlu kita demo malah Presiden kita, kita demo dia, kita berikan dukungan moril..kita beri amanat, dan support, Bagaimana agar SBY bisa memanfaatkan pertemuannya dengan Obama tersebut untuk memperjuangkan umat Islam untuk menyuarakan suara  Ummat Islam,..Untuk membawa pesan-pesan dan harapan dari kaum Muslimin yang selama ini terdzolimi oleh Amerika. Kita dukung Pak SBY agar menunjukkan kapasitasnya sebagai pemimpin  negara dengan jumlah  ummat Islam terbesar di dunia, negara dengan masjid terbanyak di dunia……negara Islam dengan wilayah terluas di dunia.

Kita support Pak SBY untuk berani tegas, menolak segala bentuk kelaliman negara kepada negara yang lain, kita dukung pak SBY untuk berani menyampaikan kritik itu kepada Amerika lewat Obama.

Kita demo SBY, kita tunjukkan support..kita yakinkan  bahwa “Ummat Islam ada di belakangmu pak SBY!” .. juga ummat lain yang masi punya rasa kemanusiaan yang katanya universal itu,  Jangan takut kepada Obama dan Paman Sam nya… Kita punya lebih banyak paman di sini…

Jadi, maksud saya,  alih-alih menolak kedatangan Obama yang ini justru tidak akan membawa hasil apa-apa, kita biarkan saja ia datang, tapi kita pastikan Presiden kita mau menyuarakan suara Ummat Islam yang sudah gerah, marah, tak tahan lagi melihat kelakukuan negara Obama. Kita demo SBY. Ingatkan bahwa beliau Islam juga dan punya  kewajiban yang sama dengan muslim yang lain… Kewajiban membela saodara saudaranya se akidah, seiman, dimanapun mereka berada. Di belahan bumi manapun.

Ayo kita demo SBY.

Oleh: luqmantifaperwira | Desember 30, 2009

Gus Dur

Gus Dur meninggal dunia.  Kabar yang sangat mengejutkan bagi saya ini baru saya dengar pukul 09.45, sepulang saya dan beberapa teman pulang dari Gedung Bank Indonesia, melihat Bienalle Jogja X. Kaget, bingung, sedih, tidak percaya. Beberapa perasaan ini bercampur. Saya mendekat ke layar televisi untuk memastikan bahwa pendengaran dan pandangan saya tidak salah. Dan ternyata benar, Gus Dur benar-benar wafat, ia menghembuskan nafas terakhirnya  di RSCM pukul  18.45 WIB.

Memori di kepala saya tiba-tiba seolah berputar, berbalik. Ingatan-ingatan saya mengenai Gus Dur seperti berlomba, berjejal untuk dimunculkan kembali. Saya bukan penggemar Gus Dur, bukan pengikut pemikiran-pemikirannya, bukan pula seorang santrinya, tetapi sosok Gus Dur banyak menyita slot memori di otak saya. Sebenarnya, sebagaimana muslim”konvensional” yang lain, saya cenderung tidak suka dengan Gus Dur. Dengan pemikirannya, juga dengan banyak tindakannya. Namun, entah mengapa, justru ketidaksukaan itu yang membuat atensi saya kepada Gus Dur sangat besar.

Saya selalu menanti statement-statement yang Gus Dur keluarkan. Saya banyak mengumpulkan jokes-jokes orisinil dari gus dur, saya menantikan kemunculannya di televisi. Saya membaca tulisan-tulisan orang mengenai dirinya. Walaupun bukan dengan semangat pengikut, bukan juga dengan semangat penggemar.

Mungkin karena itu semua , sosok Gus dur seakan menjadi akrab dengan ingatan saya, walaupun tidak dengan evaluasi positif. Dan mungkin karena itulah, mendengar berita tadi, saya merasa kaget dan merasa sangat kehilangan. Seolah saya kehilangan seorang pahlawan atau seorang tokoh panutan. Padahal, sama sekali tidak, saya tidak pernah menganggapnya demikian. Hanya saja, entah mengapa, rasa kehilangan saat saya mendengar kabar tadi hampir sama seperti saat saya mendengar berita kematian WS. Rendra , Pak Sugiyanto, atau Pak Mustaghfirin dosen saya.

Satu hal yang banyak mengisi ingatan saya tentang Gus Dur adalah humor-humornya. Saya menyukai selera humornya. Gus Dur memang dikenal sebagai sosok yang hobi bercanda, ia gemar lelucon. Menciptakan lelucon maupun menikmatinya. Buku “Mati Ketawa Ala Gus Dur” bisa jadi bukti otentik. Kumpulan lelucon Gus Dur  dikumpulkan dan dapat disusun menjadi sebuah buku. Harus diakui, saya mengagumi humor-humornya, humor-humor cerdas.

Humor bagi Gus Dur,  seperti sebuah kopiah bagi seorang kiai. Humor tidak bisa dipisahkan dari pribadinya. Humor adalah dirinya, tak peduli status apa yang sedang ia sandang.

Gus Dur memandang humor bukan hanya sebagai sarana pemecah kebekuan, humor baginya adalah   sarana penyampai pesan. Pesan penting sekalipun. Ia mampu menjadikan humor sebagai media kritik yang tidak memerahkan telinga, cukup menimbulkan senyum kecut atau miris. Bagi siapa saja, termasuk bagi dirinya sendiri.

Humornya, tak terbatas ruang, tak terbatas waktu. Ia bisa melucu dimana saja, dalam kesempatan apa saja. Gus Dur bisa jenaka dengan bahan apa saja, bahkan dengan kekurangan dirinya.

Dalam sebuah  konfrensi internasional di Bali, bersama wakilnya, Megawati, Gus Dur memberikan pidato sambutan sebagai kepala negara. Di hadapan para hadirin Gus Dur berbicara dengan bahasa Inggris yang santai, mengalir, dan tanpa teks, “ Kami (Gus Dur dan Mega- pen) akan menjadi tim yang hebat..” Saya tidak bisa melihat, dan dia tidak bisa bicara..”

Gus Dur dan humor-humor cerdasnya. Satu rangkaian yang pasti akan sangat saya rindukan. Selamat jalan Gus Dur….

30 desember, penghujung 2009

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.