Oleh: luqmantifaperwira | Desember 30, 2009

Gus Dur

Gus Dur meninggal dunia.  Kabar yang sangat mengejutkan bagi saya ini baru saya dengar pukul 09.45, sepulang saya dan beberapa teman pulang dari Gedung Bank Indonesia, melihat Bienalle Jogja X. Kaget, bingung, sedih, tidak percaya. Beberapa perasaan ini bercampur. Saya mendekat ke layar televisi untuk memastikan bahwa pendengaran dan pandangan saya tidak salah. Dan ternyata benar, Gus Dur benar-benar wafat, ia menghembuskan nafas terakhirnya  di RSCM pukul  18.45 WIB.

Memori di kepala saya tiba-tiba seolah berputar, berbalik. Ingatan-ingatan saya mengenai Gus Dur seperti berlomba, berjejal untuk dimunculkan kembali. Saya bukan penggemar Gus Dur, bukan pengikut pemikiran-pemikirannya, bukan pula seorang santrinya, tetapi sosok Gus Dur banyak menyita slot memori di otak saya. Sebenarnya, sebagaimana muslim”konvensional” yang lain, saya cenderung tidak suka dengan Gus Dur. Dengan pemikirannya, juga dengan banyak tindakannya. Namun, entah mengapa, justru ketidaksukaan itu yang membuat atensi saya kepada Gus Dur sangat besar.

Saya selalu menanti statement-statement yang Gus Dur keluarkan. Saya banyak mengumpulkan jokes-jokes orisinil dari gus dur, saya menantikan kemunculannya di televisi. Saya membaca tulisan-tulisan orang mengenai dirinya. Walaupun bukan dengan semangat pengikut, bukan juga dengan semangat penggemar.

Mungkin karena itu semua , sosok Gus dur seakan menjadi akrab dengan ingatan saya, walaupun tidak dengan evaluasi positif. Dan mungkin karena itulah, mendengar berita tadi, saya merasa kaget dan merasa sangat kehilangan. Seolah saya kehilangan seorang pahlawan atau seorang tokoh panutan. Padahal, sama sekali tidak, saya tidak pernah menganggapnya demikian. Hanya saja, entah mengapa, rasa kehilangan saat saya mendengar kabar tadi hampir sama seperti saat saya mendengar berita kematian WS. Rendra , Pak Sugiyanto, atau Pak Mustaghfirin dosen saya.

Satu hal yang banyak mengisi ingatan saya tentang Gus Dur adalah humor-humornya. Saya menyukai selera humornya. Gus Dur memang dikenal sebagai sosok yang hobi bercanda, ia gemar lelucon. Menciptakan lelucon maupun menikmatinya. Buku “Mati Ketawa Ala Gus Dur” bisa jadi bukti otentik. Kumpulan lelucon Gus Dur  dikumpulkan dan dapat disusun menjadi sebuah buku. Harus diakui, saya mengagumi humor-humornya, humor-humor cerdas.

Humor bagi Gus Dur,  seperti sebuah kopiah bagi seorang kiai. Humor tidak bisa dipisahkan dari pribadinya. Humor adalah dirinya, tak peduli status apa yang sedang ia sandang.

Gus Dur memandang humor bukan hanya sebagai sarana pemecah kebekuan, humor baginya adalah   sarana penyampai pesan. Pesan penting sekalipun. Ia mampu menjadikan humor sebagai media kritik yang tidak memerahkan telinga, cukup menimbulkan senyum kecut atau miris. Bagi siapa saja, termasuk bagi dirinya sendiri.

Humornya, tak terbatas ruang, tak terbatas waktu. Ia bisa melucu dimana saja, dalam kesempatan apa saja. Gus Dur bisa jenaka dengan bahan apa saja, bahkan dengan kekurangan dirinya.

Dalam sebuah  konfrensi internasional di Bali, bersama wakilnya, Megawati, Gus Dur memberikan pidato sambutan sebagai kepala negara. Di hadapan para hadirin Gus Dur berbicara dengan bahasa Inggris yang santai, mengalir, dan tanpa teks, “ Kami (Gus Dur dan Mega- pen) akan menjadi tim yang hebat..” Saya tidak bisa melihat, dan dia tidak bisa bicara..”

Gus Dur dan humor-humor cerdasnya. Satu rangkaian yang pasti akan sangat saya rindukan. Selamat jalan Gus Dur….

30 desember, penghujung 2009

Oleh: luqmantifaperwira | September 23, 2009

GATHOT KACA : THE COMPLIENCE PROFESSIONALS

Kurang lebih sepekan yang lalu, saya mengalami suatu kejadian unik yang sangat menarik. Sesaat menjelang sholat jum’at, pukul 11.35, saya memacu supra XX ungu-silver saya dari mushola apung pascasarjana ke arah masjid kampus. Karena lampu di perempatan jakal-selokan mendadak merah, maka saya pun berhenti, berhenti di belakang seorang pengendara motor lain. Tiba-tiba, selang beberapa saat, munculah sesosok makhluk, manusia, pemuda, berusia sekitar 25an tahun, menggunakan kostum gathot kaca. Ya makhluk tersebut benar2 mengenakan kostum GATHOTKACA, lengkap dengan sayap dibelakang punggungnya! Ia mendekati pengendara motor di depan saya dan entah berkata2 apa,namun dari belakang, nampaknya ia sedang meminta-minta.

Tidak lama kemudian, nampak putus asa karena tidak mendapatkan apa yang diingankannya, Sang Gathot kaca mengalihkan pandangan dan badannya ke arah saya (…haduuhhh!! deg!) . Benar, ia akhirnya mendatangi saya, berdiri disamping saya, dekat. Dekat sekali. Bahkan tubuhnya sampai menyentuh lengan saya.

“Mas…minta uangnya 50 ribu mas…mas minta uangnya 50 ribu mas.. saya mau pulang ke S*** mas….” Mas…minta uang nya mas…50 ribu aja mas….buat pulang ke S*** mas……”

Hampir belasan kali ia mengulang-ulang kalimat itu, dengan nada yang sama, nada yang sedikit memelas namun lebih cenderung berkesan memaksa…… “Mas…minta uangnya 50 ribu mas…50 ribu aja mas..buat pulang ke S*** mas….

Baca Lanjutannya…

Oleh: luqmantifaperwira | September 22, 2009

TEMBOK, VANDALISME, REMAJA, dan FACEBOOK

Melihat seorang bapak yang telah memutih rambutnya mengecat sesisi tembok kokoh plengkung Nirbaya, Plengkung Gading, siang lalu, hati ini merasa miris. Betapa tidak, bisa dibayangkan tak lama setelah semua sisi bangunan tua ini putih kembali, coretan-coretan dengan cat semprot berbagai warna akan segera muncul, bak goresan awal lukisan di atas kanvas kosong yang masih bersih. Sungguh malang nasib bengunan-bangunan bersejarah di kota yogya, selamat dari ganasnya gerusan cuaca dan usia, namun tak bisa lolos dari tangan-tangan jahil nan durhaka.

vandalism di ruang publik

vandalism di ruang publik

Fenomena corat-coret tembok semakin marak akhir-akhir ini, disetiap sudut kota dimana kita melemparkan pandangan, pastilah kita akan menjumpainya. Variasinya pun semakin beragam, dari sekedar coretan inisial nama kelompok di tembok, hingga mulai gambar-gambar unik yang artisitik. Mengenai pelakunya, tak diragukan lagi, sebagian besar aksi corat-coter ini dilakukan oleh remaja. Hal ini dapat kita ketahui langsung dari jejak yang ditinggalkan dalam coretan tersebut, biasanya dibelakang inisial kelompok, terdapat angka yang menunjukkan identitas angkatan sang pelaku coret-coret, sebagian besar coretan yang penulis jumpai bertuliskan angka antara 08-010 angka yang mencerminkan angkatan masuk atau kelulusan di suatu sekolah. Baca Lanjutannya…

Oleh: luqmantifaperwira | Maret 14, 2009

Just Say, “I am Muslim…”

Belum lama ini, saya alhamdulillah diberi kesempatan oleh Allah untuk dapat bertemu dengan seorang tokoh hebat, kesempatan istimewa ini saya dapatkan saaat saya menyengaja untuk bersilaturahim ke rumah beliau. Belau adalah Prof. Dr Achmad Mursyidi, seorang guru besar Farmasi Gadjah Mada, mantan anggota majelis wali amanat UGM yang terhormat itu, dan juga mantan Rektor UMY. Saat ini beliau juga masih menjabat sebagai ketua FUI, Forum Ukhuwah Islamiyyah Daerah Istimewa Yogyakarta, sebuah forum yang mempertemukan para ulama dan tokoh-tokoh masyarakat muslim dari berbagai Ormas Islam seperti Muhamadiyyah, NU, Majelis Mujahiddin, FJI, BKPRMI, FSRMY dan sebagainya.

Pada kesempatan itu, banyak sekali hal yang saya daptkan dari beliau. Satu poin yang akan saya tulis disini, yaitu nasihat beliau soal “Tunjukkanlah keIslaman kita”. Beliau menasihati kami sebagi bekal bagi kami besok waktu akan melanjutan studi di luar negeri. (amiiin….) Surprise juga pas mendengarnya, koq beliau bisa tahu kalo kami berdua kebetulan waktu itu dua-duanya memang sangat ngebet pengen keluar negeri.

Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori