Oleh: luqmantifaperwira | September 24, 2010

Pak Warto, Guru Istimewa Kami

Jika kita mau menghitung, jumlah guru yang pernah mengajar kita semenjak TK hingga SMA bisa mencapai angka puluhan. Setidaknya ada tiga guru TK, 7 guru SD, 10 guru SMP, 15 guru SMA, yang pernah berinteraksi belajar mengajar dengan kita. Belum lagi ditambah dengan guru-guru ekstra maupun intrakulikuler lain. Namun, diantara sekian banyak guru tersebut pasti terdapat nama seorang guru yang paling membekas dalam ingatan kita.

Bagi saya, nama tersebut adalah Suwarto, S.Pd., Pak Warto, guru kelas lima dan kelas enam  saya di sekolah dasar. Sampai saat ini, nama itu masih menempati urutan pertama guru yang paling berpengaruh yang pernah saya temui.

Beliau adalah guru yang sangat menyenangkan bagi siswa-siswanya, guru yang tidak pernah marah, dan guru yang dalam pandangan kami pada waktu itu, mau melakukan apa saja untuk membuat anak didiknya bersemangat untuk belajar.

Saat memasuki kelas lima dan mengenal beliau, sekolah berubah menjadi sebuah aktivitas yang ditunggu-tunggu. Bagaimana tidak, setiap masuk kelas kami selalu disambut dengan jabat tangan yang hangat dan senyum lucu yang menentramkan. Ekspresi wajah dan tubuh beliau seakan berkata: “Selamat datang, Ayo, mau berpetualang kemana kita hari ini?” Bersama beliau, pelajaran-pelajaran kelas lima yang di level SD merupakan pelajaran paling berat, tidak terasa menjadi beban. Pelajaran matematika, yang selama ini jadi hambatan saya, entah bagaimana, menjadi terasa mudah.

Yang menjadi favorit saya adalah ketika beliau mengajar pelajaran IPS, pada materi sejarah. Pak Warto, menjelma menjadi seorang pendongeng hebat, wajah beliau yang memang lucu, ditambah pembawaan beliau yang sangat ekspresif membuat kami terhanyut dalam kisah-kisah sejarah itu. Belakangan kami mengetahui bahwa ternyata beliau memiliki pengalaman sebagai dalang wayang kulit, tak mengherankan, materi-materi sejarah dari zaman kerajaan sampai zaman perang kemerdekaan disampaikan dengan sangat menariknya. Begitu pula pada pelajaran yang lain, IPA misalnya. Kami tidak hanya diberikan materi semata yang ada di dalam buku, tetapi kami benar-benar diajak untuk mengamati sekeliling lingkungan kami.

Saya punya pengalaman khusus yang sangat membekas. Pada pelajaran mengenai batuan, kami diminta untuk mencari batu disekitar lingkungan untuk kemudian dibawa kesekolah untuk diidentifikasi bersama. Dengan mantap saya membawa sebongkah batu yang saya yakini merupakan batu apung, karena saya temukan batu itu terhanyut saat halaman rumah saya digenang air hujan. Setalah diteliti bersama di depan kelas, dengan menahan geli, Pak Warto menyampaikan bahwa itu bukanlah batu apung, melainkan sebongkah kayu yang hangus terbakar. Serentak seluruh kelas tertawa, menertawakan saya. Saya semestinya malu ditertawakan seperi itu, dan saya memang agak malu karena tadinya sangat mantap saya yakin itu adalah batu apung, tetapi dengan cara yang ajaib Pak Warto membawakan suasana kelas menjadi lucu dan menyelamatkan saya dari rasa malu yang amat sangat. Dan saya pun justru bisa ikut tertawa lepas. Momen ini tidak akan pernah saya lupakan sepanjang waktu.

Kami juga sangat terkesan dengan kesabaran beliau dalam membimbing murid-muridnya. Diantara keduapuluh anak, terdapat dua anak yang kami tidak memahami sebabnya, tidak pernah mau mengeluarkan kata-kata. Dua kawan kami yang sangat pendiam,sangat-sangat pendiam ini, dalam satu hari mungkin hanya mengeluarkan satu atau dua kata saja. Kami, teman-temannya, kadang jengkel, tidak sabar melihatnya terus menerus diam, bahkan saat ditanya oleh Guru. Namun,tidak untuk Pak Warto. Dengan kedua anak ini juga, Pak Warto tidak pernah marah.

Rasa sayang kami, keduapuluh murid ini, kepada  Beliau semakin hari semakin bertambah. Sampai pada hari Ulang tahunnya, kami menyusun sebuah rencana “jahat”. Hari itu kami sepakat berubah menjadi anak-anak bandel, tidak mendengarkan, malas, dan ramai di kelas. Pokoknya apapun untuk membuat beliau marah, sebuah ekspresi yang selama ini belum pernah kami lihat dari Beliau. Misi berhasil walau dengan susah payah, dan hari itu ditutup dengan kue tart dan kado istimewa dari kami. Dan pak warto pun menagis terharu.

Dari luar, orang menilai kesuksesan guru, khususnya guru kelas enam SD, adalah dari  seberapa tinggi capaian nilai akhir anak didiknya, atau berapa banyak murid yang mampu melanjutkan sekolahnya di SMP favorit, SMP negeri. Bagi kami, tanpa melihat hal ini pun, Pak Warto adalah guru yang sangat sukses. Beliau berhasil membangun cara pandang kami yang baru tentang apa itu belajar. Belajar,bagi kami saat itu,adalah aktivitas yang sangat menyenangkan.

Kerja keras, dedikasi, dan totalitas Beliau dalam mengajar membuahkan hasil. Dari 20 siswa-siswinya, hanya 4 orang yang nilainya tidak mencukupi untuk masuk SMP negeri, bahkan 6 anak berhasil masuk SMP favorit di kota kami. Pencapaian ini adalah prestasi yang luar biasa, khususnya bagi Pak warto, karena ini merupakan pertama kalinya pak warto “memegang” kelas 6, setelah sekian lama beliau mengajar kelas 5.

Rasa kagum dan bangga yang saya kepada Beliau rasakan bertambah, saat suatu ketika, setelah beberapa tahun lulus dari SD, saya bertemu dengan kedua kawan yang  dulu sangat hemat kata. Saya sangat kaget, mereka telah berubah jauh, seorang kawan saya, yang dulu ditanya guru saja tidak mau bicara, menyapa saya dengan tersenyum, dengan sangat akrab. Lebih mengejutkan lagi, saya mendengar dari teman-teman, si super pendiam yang lain, kini jadi bintang idola di sekolahnya.

Saya meyakini,perubahan pada kawan-kawan saya ini  juga merupakan salah satu bentuk kesuksesan dari Pak Warto. Keberhasilan membuat perubahan positif pada anak anak didiknya. Sebagaimana perubahan yang juga saya alami, buah dari kesabaran, dedikasi, dan rasa sayang Pak Warto kepada kami, murid-muridnya.


Tanggapan

  1. Dedikasi yg baik..Saya juga punya sebuah kisah tentang sosok Pak Warto. Pak Warto merupakan sosok guru dan motivator bagi muridnya . Walaupun saya tidak diajar oleh beliau namun dalam keseharian di Sekolah dulu sangatlah membantu terutama karena motivasi yg diberikan. Beliau selalu membandingkan dengan kakak saya. walaupun kemampuan saya tidak sama dengan kakak. Hal inilah yg melecut semangat saya untuk terus belajar karena semua hal yg kita lakukan tidaklah sia-sia. Hingga akhirnya saya dapat melanjutkan di jenjang sekolah favori yg lebih tinggi..Terima Kasih Pak Warto..Apakah Pak Warto masih mngajar di Suryo 3??

  2. sungguh beruntung orang – orang yang memiliki guru yang baik…

    sejatinya, tidak ada manusia yang dilahirkan bodoh. hanya saja, tidak semua manusia ini mendapatkan guru yang sepenuh hati mengajarkan kehidupan kepadanya…


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.