Pada awalnya memang, begitu tahu saya lolos mendapatkan beasiswa ini, saya sadar kalo ini konsekuensinya berarti saya harus menunda skripsi saya. Selama dua bulan disana pasti saya akan sibuk dg agenda kuliah dan program sehingga mana mungkin dapat mencicil penelitian akhir saya ini. Karena itulah saya sempat berniat untuk tidak memikirkan skripsi sama sekali disana,fokus kepada program. Tetapi untunglah saya berubah pikiran, saya bawa bebrapa buku referensi saya dan sebuah poposal skripsi yang saya buat dg mati2an. Walopun tidak tahu apakah akan berguna atau tidak disana kelak.
Sesampainya di Amerika, alhamdulillah, ternyata saya memiliki cukup banyak waktu untuk membagi hati dan pikiran kepada penelitian saya. Saya sampatkan untuk mencicil berkonsultasi dan mencari referensi, dan terkejutlah saya, akan berbagai hal yang saya jumpai disini.
Saya iseng mengemail beberapa profesor yang ekspert di bidang yang ingin saya teliti. Dan responnya sungguh diluar dugaan, beberapa jam kemudian berbalas dan siang harinya kami ketemuan. Beliau senior, dan P.Hd, tapi cara beliau menyikapi saya, orang asing yang kurang belajar dan kurang ilmu ini luar biasa menghargai. Beliau dengan sabar mendengarkan unek-unek saya mengenai rancangan eksperimen yang saya buat. Dengan segala keterbatasan bahasa yang saya miliki, beliau berusaha dengan sungguh-sungguh memahami. Beliu memberi beberapa masukan, menawarkan untuk bertemu lagi dan diluar dugaan profesor itu memberikan saya beberapa referensi buku yang penting untuk saya baca.
Berikutnya adalah perpustakaan, ini adalah surga dunia nya para skripsiwan skripsiwati, dan para peneliti atau sekedar pencarai referensi. Susah saya menggambarkan seberapa besarnya perpustakaan dikampus ini. Saya menemukan judul – judul yang selama ini saya cari, referensi-refrensi yang selama ini hanya saya dapatkan di kutipan dari kutipan yang dikutip dari tulisan aslinya. Dan yang lebih asyik lagi, di E-library, kita bisa menemukan ribuan jurnal, yang bisa dengan mudahnya langsung kita download atau kalau mau bahkan diprint langsung. Oh ya, dan disini asalkan sudah teregister sebagai mahasiswa, ngeprint dimana-mana gratis. Susah menghilangkan rasa bersalah saya untuk mengeprint beberapa judul jurnal tanpa membayar, mengingat biasanya di perpus kampus kami membayar 800 rupiah per lembar. Perpus disini buka setiap hari sampai malam. Bisa lupa waktu kita disini. Terbuai dengan puluhan judul buku yang selama ini kita idam idamkan.
Dua hal ini, kemudahan dosen untuk di akses, dan ketersediaan referensi yang lebih dari memadai, sungguh sangat mendukung proses belajar ataupun penelitian yang sedang kita jalani. Ini baru dua poin utama, masih banyak hal-hal pendukung lain yang membuat proses belajar menjadi sangat nikmat. Transportasi umum yang sangat bisa diandalkan, kenyamanan dan kebersihan lingkungan kampus, sarana rekreasi mahasiswa saat kita mulai jenuh atau sekedar ingin menjaga kebugaran tubuh, dan masih banyak lagi lainnya. Semoga ini bisa memotivasi saya untuk bisa melanjutkan studi di luar negeri, dan tentu saja untuk nantinya turut membangun iklim belajar yang kondusif di kampus di negeri kita sendiri.



















mantap Man..
Oleh: fajarbs on Juli 20, 2011
at 1:51 pm