self talk

…sekedar jerat bagi loncatan-loncatan ide dan gagasan…

Ideologisasi Sunnah

Alhamdulillah, kita bersyukur terlahir menjadi generasi yang hidup di masa-masa dakwah Islam bisa berkembang dengan luar biasa karena kebebasan yang terjamin. Di masa-masa ini berbagai gerakan keislaman dapat berkembang dengan luar biasa pesat, baik itu gerakan Islam asli Indonesia ataupun yang berasal dari luar. Kita seolah dimanjakan, disuguhkan jamuan prasmanan : kita bisa ambil mana yang kita cocok, mana yang kita suka. Masing-masing gerakan Islam menawarkan warna gerakannya sendiri yang sangat beragam. Masing-masing juga memiliki wasilahnya sendiri untuk men-syiarkan warnanya, semua punya majalah, penerbit, dan website rujukan tersendiri.

Kehadiran berbagai gerakan perjuangan Islam ini juga membawa warna baru dalam dunia keislaman di Indonesia. Kehadirannya membawa keanekaragaman pandangan tentang islam, mulai dari hal mendasar tentang visi jangka panjang umat Islam sedunia sampai ke perbedaan pernik-pernik sunnah dan  ibadah.

Tulisan sekedarnya ini sedikit akan menyinggung yang kedua. Perbedaan rujukan ustadz, ulama, bahkan mazhab yang kadang berbeda-beda ini membawa konsekuensi pada beragamnya bentuk pengamalan ajaran islam yang sifatnya cabang (bukan prinsip). Keragaman ini terlihat dari beberapa aspek, diantaranya sikap, ibadah sehari-hari dan juga dari tampilan fisik luarnya.

Sebagaimana yang telah umum diketahui, bahwa perbedaan di tataran cabang tidaklah menjadi masalah karena meskipun sunnah berasal dari satu sumber yang sama namun ia sampai kepada kita lewat jalur yang berbeda-beda. Terlebih lagi terkadang suatu amalan memang memiliki beberapa varisasi yang semuanya sah diakui sesuai sunnah. Perbedaan di tataran non prinsip ini masih sangat ditoleransi. Namun yang menjadikannya  menarik adalah, variasi-variasi ini terkadang justru diklaim sebagai amalan ciri khas kelompok pergerakan tertentu, entah secara institusional ataupun secara kultural lewat jamaahnya. Seolah-olah sikap yang begini, amalan yang itu, tampilan fisik yang demikian, dst. menjadi  ciri atau prasyarat bagi individu yang menjadi bagian dari gerakan tertentu.

Kalau boleh meminjam Istilah Ust. Faturahman Kamal, Lc, telah terjadi “Ideologisasi” di kalangan kelompok-kelompok pergerakan umat Islam. Untuk memperjelas konteksnya, ijinkan saya menyebutnya “Ideologisasi Sunnah”. Ya. Maksudnya adalah, sudah berkembang anggapan bahwa amalan sunnah yang demikian, ittiba Nabi yang demikian, dst dapat menjadikan kita bagian dari anggota pergerakan islam tertentu, karena  seolah sudah sesuai dengan”garis-garis besar haluan ormas” tertentu. Misalnya, kader gerakan tarbiyah harus baca dzikir pagi dan petang dan berjenggot tipis, jamaah salafy pakaiannya harus anti isbal dan pake gamis plus berjenggot lebat, anggota Jamaah Tabligh harus pake siwak dan makan berjamaah, Kader Muhammadiyah harus anti rokok, santri NU itu ya harus suka sholawatan, Dst. mungkin contoh-contoh ini kurang tepat, atau malah jauh dari tepat karena keterbatasan pengetahuan Saya. Tetapi semoga maksud Saya yang berusaha meneruskan ide Ust. Fatur sudah bisa tertangkap. Sebenarnya saya pribadi juga tidak sepenuhnya sepakat dengan istilah “Ideologisasi” ini. Karena sepemahaman saya ideologi yang dianut oleh semua pergerakan Islam itu juga hanyalah ideologi Islam. Kalau lebih pasnya menurut saya “Lokalisasi Sunnah”, maksudnya amalan-amalan sunnah tertentu dilokalisir hanya berada di kalangan tertentu saja. Tapi rasanya kata itu jadi jauh lebih aneh jika dipakai disini, karena itu sebaiknya kita tetap mengikuti Ust Faturrahman Kamal,Lc. saja yang memang berilmu.

Berikutnya muncul pertanyaan, apakah salah kalo kita beramal sesuai yang diajarkan Ustadz kami, Syekh kami, Mbah Yai kami atau Murobbi kami? Bukan salah benar kita mengamalkan ajaran guru-guru kita maksud Saya, karena dalam konteks ini variasi yang ada ini yang masih dalam bingkai sunnah. Poin tulisan ini lebih mengarah kepada dampak yang ditimbulkan dari paradigma Ideologisasi amalan tadi.

Setidaknya  dua akibat yang muncul dari paradigma ideologisasi terurai di atas. Pertama, bagi kalangan di luar kelompok. Terkadang muncul kecenderungan bagi umat muslim untuk tidak mengamalkan suatu sunnah karena menghindarkan diri diklasifikasikan sebagai bagian dari kelompok tertentu. “Ente salafy ya sekarang koq celana nya congklang?” “Wah, subhanallah, pake siwak sekarang, sejak kapan masuk JT?” “subhanallah, Antum wangi banget, mau khuruj ya?” “Wah, ukhti jilbabnya lebar dan pakai kaos kaki sekarang, sudah ikut tarbiyah di kampus?” Mungkin pertanyaan-pertanyaan seperti di atas itu yang sering membuat kita canggung dan berpikir ulang untuk melakukan suatu amal karena amal tersebut sudah terlalu identik dengan kelompok tertentu, dan kita enggan dicap sebagai anggota kelompok tersebut.  Tentu saja hal seperti ini berbahaya. Cara pandang demikian bisa membuat seseorang tidak mengamalkan suatu amal sunnah yang mulia dan utama hanya karena menghindari labeling bagian dari kelompok tertentu. Padahal amalan-amalan sunnah tadi akan bernilai pahala bagi siapapun pengamalnya, dari kelompok pergerakan apapun.

Kedua, pandangan yang demikian ini bisa berdampak besar pada niat pelaku amalnya. Semoga kita terhindar dari yang demikian. Pernahkah kita melakukan suatu amal hanya karena merasa bahwa sudah selayaknya anggota dari jamaah ini mengamalkannya? Kita beramal karena terdorong dengan kata-kata “Kader tarbiyah koq gak dzikir pagi petang?” “Santri pondok koq ga seneng sholawatan.” “Jamaah salafy koq jenggotnya ga dipanjangin?” dst. Padahal sebenarnya semua amal tersebut adalah amalan-amalan sunnah yang mulia, yang akan bernilai pahala jika kita meniatkannya untuk ittiba’ Nabi. Sayangnya terkadang niat kita terbelenggu oleh labelisasi-labelisasi di atas. Niat kita terkadang hanya mentok kepada sudah “Sewajarnya Saya melakukan hal yang demikian “Malu ah sama ustadz kalau saya kader inti koq tidak begini..” dst. Kita melakukan atau tidak melakukan sesuatu hanya karena tuntutan afiliasi saja. Astaghfirullahaladzim. Mengingat betapa seringnya para Ustadz mengingatkan pentingnya niat dalam suatu amal, mari kita berdoa agar terhindar dari kesalahan niat yang demikan, agar amalan sunnah yang kita lakukan bernilai dihadapan Allah dan Rosulnya. Duh, siapa Saya berani-beraninya bicara soal niat.

Demikianlah diantara dampak negatif kecenderungan untuk meng “Ideologisasi” Sunnah-sunnah nabi yang mulia. Mari kita kembalikan saja semua amalan-amalan itu ke tempatnya, yaitu ajaran Nabi yang bernilai pahala bagi siapapun yang mengamalkannya,  asalkan dengan niat cinta Nabi dan lillahita’ala. Alangkah indahnya jika setiap muslim apapun pilihan pergerakan Islamnya sama-sama bersemangat untuk mengamalkan sunnah-sunnah yang sama. Alangkah indahnya jika berbagai kelompok pergerakan Islam dipersatukan oleh kecintaan mereka mengamalkan sunnah Nabinya. Wallhua’lam bishowab.

DSCN0025

Iklan

One comment on “Ideologisasi Sunnah

  1. fajarbs
    Januari 9, 2013

    hahaha,,, mantep euy..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 8, 2013 by in Tak Berkategori.

Navigasi

%d blogger menyukai ini: